memenangkan kepercayaan dalam bimbel hybrid: rangkuman webinar EdTech Indonesia bersama Omniki Survey
Memenangkan Kepercayaan Dalam Bimbel Hybrid: Rangkuman Webinar EdTech Indonesia Bersama Omniki Survey
Apa yang membuat orang tua percaya pada platform bimbingan belajar hybrid? Tiga panelis — dengan dukungan riset Omniki — berbagi perspektif.
Pada 3 September 2026, Omniki menggelar diskusi panel langsung yang mempertemukan tiga sosok penting dalam dunia teknologi pendidikan Indonesia. Topik yang dibahas: apa sebenarnya yang membuat keluarga percaya pada model bimbel hybrid?

Sesi yang dipandu oleh Putri, BD Omniki, dibuka dengan polling singkat. Sekitar 60% peserta mengaku masih dalam tahap eksplorasi EdTech, sementara 20% berasal dari institusi dan agensi yang sudah aktif. Campuran ini menciptakan dinamika diskusi yang bergerak luwes antara temuan riset, kehati-hatian kebijakan, dan detail produk.

Pembicara

Galuh Paskamagma
Program Manager
Dr. Khaerun Nisa, M.Si.
Associate Research Expert of Research Center for Education
Dwiputri Sutanto
Andy Febrico Bintoro
Omniki.Survey
Business Development
Manager
CTO & Co-Founder

Tidak sempat bergabung di webinar kami? Simak rekamannya

Bimbel hybrid tidak hanya fokus kepada layar

Galuh Paskamagma menekankan bahwa nilai utama hybrid learning bukan sekadar digitalisasi kelas, melainkan memperluas jangkauan guru dan siswa. Guru dengan keahlian teknis mendalam kini bisa mengakses pelatihan global tanpa meninggalkan jadwal mengajar penuh. Bagi siswa, format hybrid membuka ruang bagi pengembangan soft skills — komunikasi, numerasi, literasi — yang sering kali terbatas di kelas tradisional.

Namun, ada syarat penting: semua ini tidak akan berjalan jika guru tidak benar-benar memahami platform yang digunakan. Teknologi canggih tidak berarti apa-apa tanpa penguasaan.

Apa yang sebenarnya dicari orang tua

Riset Omniki menunjukkan orang tua tidak memilih platform EdTech karena desain yang menarik, melainkan karena relevansi, hasil, dan dukungan nyata.

Dr. Khaerun Nisa menambahkan, pasca pandemi orang tua lebih selektif. Mereka menimbang setiap platform berdasarkan nilai konkret yang diberikan pada pembelajaran anak. Bagi keluarga urban, tiga hal paling penting: fleksibilitas, akses berkelanjutan ke materi setelah sesi berakhir, dan tetap adanya tutor nyata dalam proses belajar.

Hasil riset Omniki

Data Omniki memperkuat temuan ini:

  • 48.6% orang tua menempatkan kualitas tutor sebagai faktor kepercayaan utama.
  • 27.4% menekankan pentingnya laporan progres yang jelas.
  • 25.9% menyoroti transparansi harga.
Namun ada sisi lain: kualitas tutor juga menjadi kekhawatiran terbesar (26.1%). Jika tutor tidak memenuhi ekspektasi, kepercayaan cepat hilang. Kepercayaan, kata data, bukan satu faktor tunggal, melainkan kombinasi kualitas, keamanan, dan privasi data.

Dr. Khaerun mengingatkan, sampel riset Omniki saat ini berbasis Jawa. Hasilnya tidak bisa digeneralisasi begitu saja ke seluruh Indonesia.

Adopsi di Kalimantan, Sulawesi, Sumatra, atau Papua bergantung pada kondisi yang berbeda.

Di luar lingkup kota besar

Konektivitas masih menjadi hambatan terbesar di luar kota besar. Sesi sering terputus karena jaringan tidak stabil, membuat siswa kehilangan materi. Namun Dr. Khaerun menekankan, rendahnya adopsi bukan hanya soal geografis. Kesadaran orang tua, kualitas sekolah, akses perangkat, dan literasi digital sama pentingnya dengan infrastruktur.

Praktek kepercayaan: pengembangan dari maxy academy

Andy menjelaskan bagaimana Maxy Academy menerjemahkan temuan riset ke dalam keputusan produk:

  • Pendampingan manusia, bukan sekadar otomatisasi — mentoring mencakup panggilan telepon nyata, bukan hanya notifikasi WhatsApp.
  • Desain offline-first — materi visual mingguan yang tetap bisa digunakan di daerah dengan koneksi lemah, diuji dari Ternate hingga Ambon.
  • Edukasi keamanan digital — komik 10 bab untuk anak TK hingga SMP tentang privasi dan keselamatan online, lengkap dengan panduan bagi orang tua.
  • Harga terjangkau — tersedia tier gratis, program berbayar mulai Rp 50.000, dengan akses subsidi melalui yayasan dan kemitraan pemerintah.

Pendekatan ini berhasil membawa skala: Maxy Academy kini memiliki sekitar 350 perjanjian kerja sama dengan universitas dan sekolah vokasi.

Jembatan antara sekolah tradisional dan EdTech

Galuh dari Djarum Foundation menegaskan, peran yayasan adalah menghubungkan platform EdTech dengan sekolah, guru, dan siswa yang membutuhkan. Jaringan yayasan digunakan untuk mencocokkan kebutuhan nyata dengan solusi yang tepat. Djarum Foundation tetap terbuka untuk kemitraan baru antara sekolah dan penyedia EdTech.
Jangan ketinggalan informasi terkini
Diskusi ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan Omniki memahami bagaimana kepercayaan dibangun dan diuji di sektor yang paling cepat berubah di Indonesia.

Ingin tahu lebih awal tentang sesi berikutnya? Nantikan informasi dari Omniki.
Privacy Notice:
Your privacy is important to us. We will not share your information with third parties. For more details, please review our Privacy Policy.

Mitra & Acara Kami

ANGGOTA DARI

+971 52 4906099
+62 811 1782 609
Copyright @ 2026 Omniki.survey
|