melampaui headline: opini publik dalam sorotan (insight dari MENA 2026)
Melampaui Headline: Opini Publik dalam Sorotan (Insight dari MENA 2026)
acara kami
14.10.2026
Bagaimana opini publik terbentuk ketika konflik meluas ke seluruh kawasan, dan apakah kebijakan pemerintah mampu mengikutinya? Tiga panelis — ditambah riset Omniki — memberikan pandangan.
Pada 13 Oktober, Omniki menggelar diskusi panel daring tentang bagaimana data opini publik membantu masyarakat Indonesia memahami konflik yang mengubah wajah Timur Tengah, serta bagaimana konflik itu dibicarakan di dalam negeri.

Dipandu oleh Dwiputri, BD Manager Omniki, sesi ini diikuti 154 peserta dan menghadirkan suara dari media, masyarakat sipil, dan lembaga riset kebijakan. Percakapan bergulir dari temuan survei Omniki di Armenia, Oman, dan Uni Emirat Arab menuju pertanyaan yang lebih dekat: sejauh mana kebijakan luar negeri Indonesia mencerminkan pandangan publiknya.

Pembicara

Dr. M. Zulfikar Rakhmat
Director of the China–Indonesia and Indonesia–MENA Desks
Fahmi Salsabila (S.S., M.Si.)
Secretary-General
Adisti Sawitri
Deputy Chief Editor
Dwiputri Sutanto
Omniki.Survey
Business Development
Manager

Tidak sempat bergabung di webinar kami? Simak rekamannya

Konflik yang kian dekat

Dr. Zulfikar menyoroti sisi ekonomi: konfrontasi AS–Iran menghantam Selat Hormuz, dan melalui jalur itu ekonomi harian masyarakat Indonesia, terutama energi. Dalam dunia yang makin terhubung, konflik yang dulu terasa jauh kini berdampak langsung.

Adisti menambahkan sisi manusiawi. Konflik yang bermula di Gaza kini merambah ke negara yang lama dianggap aman oleh masyarakat Indonesia, termasuk Arab Saudi, tujuan Haji dan Umrah. Bagi Indonesia, isu paling mendesak adalah keamanan pasokan energi, bukan sekadar rasa takut akan teror.

Apa yang ditambahkan survei ke pemberitaan

Bagi The Jakarta Post, media berbahasa Inggris yang jadi rujukan ekspatriat dan kedutaan, Timur Tengah adalah liputan harian. Berita cepat hadir di situs dan media sosial; analisis mendalam datang dari akademisi dan lembaga riset seperti CELIOS dan ISMES.

Survei, jelas Adisti, memberi sesuatu yang tak bisa dicapai wawancara: bukan sekadar suara per orang, melainkan pandangan arus utama yang terkumpul. Itulah mengapa The Jakarta Post rutin melaporkan riset survei, termasuk bagaimana warga ASEAN melihat ASEAN. Studi Omniki berguna karena menangkap sentimen akar rumput, bukan hanya posisi pemerintah.

Temuan riset Omniki

Dwiputri memaparkan hasil studi MENA 2026, membandingkan Armenia, Oman, dan UEA dalam dua dimensi: seberapa dekat publik mengikuti konflik, dan sumber informasi yang mereka gunakan.

  • 57.4% responden Armenia condong ke Iran; di Oman dan UEA banyak memilih netral
  • Di Oman, proporsi yang condong ke Iran turun dari 38.5% (yang mengikuti konflik sangat dekat) menjadi 20.7% (yang tidak mengikuti sama sekali)
  • Ketidakpastian naik dari 12.9% menjadi 34.7%
  • 51.9% responden Oman yang mengandalkan pernyataan resmi pemerintah condong ke Iran; penonton televisi menunjukkan ketidakpastian tertinggi, 22.6%
Dr. Zulfikar merangkum dengan tiga kata: less news, less sure. Mereka yang mengikuti berita lebih yakin pada pandangannya dibanding yang tidak. Dwiputri menambahkan catatan: data menunjukkan korelasi, bukan sebab-akibat; riset lanjutan diperlukan untuk memastikan.

Ketika elit dan akar rumput berbeda arah

Adisti menilai hasil paling mencolok adalah jarak antara pemerintah dan publik. Di Oman, sikap resmi netral, namun sentimen masyarakat condong ke Iran. Di beberapa negara lain, pemerintah dekat dengan AS sementara warganya condong sebaliknya. Salah satu alasannya: publik tak lagi bergantung pada media arus utama. Kanal resmi kini bisa diikuti langsung lewat media sosial dan YouTube, sehingga informasi lebih cepat, dan publik makin kritis sekaligus cemas.

Dr. Zulfikar menempatkan Indonesia paling mirip UEA: enggan memilih pihak, sejalan dengan politik luar negeri bebas aktif. Namun ia menyoroti titik buta: isu Palestina terasa dekat, tetapi sedikit yang memahami konteks lebih luas tentang aktor dan dinamika konflik.

Kesenjangan di dalam negeri

Panel sepakat kesenjangan serupa juga ada di Indonesia. Keputusan bergabung dengan Board of Peace dan rencana mengirim pasukan dinilai kurang dikomunikasikan ke publik, yang menurut survei CELIOS lebih memilih Indonesia mengirim bantuan kemanusiaan.

Dr. Zulfikar mengaitkan dengan data Omniki: hanya 6.2% warga Oman yang mendapat berita dari pernyataan resmi merasa ragu, dibanding 22.6% penonton televisi. Ketika pemerintah menjelaskan keputusan dengan jelas dan cepat, dukungan publik lebih tinggi; jika tidak, oposisi muncul. Adisti menekankan peran media sebagai penghubung, melaporkan posisi pemerintah sekaligus suara yang berbeda, dan menyerukan platform terbuka bagi pemerintah, akademisi, dan media untuk saling mendengar.

Data sebagai advokasi: cara panel memanfaatkannya

Ditanya audiens bagaimana lembaga mereka menggunakan data, panelis berbagi contoh nyata:

  • Diplomasi publik — ISMES menulis di media nasional, menggunakan data untuk advokasi dan diplomasi, memberi masukan kebijakan terkait Timur Tengah dan kepentingan Indonesia sebagai negara Muslim terbesar
  • Masukan sebelum, bukan sesudah — CELIOS memakai survei cepat untuk memberi saran ke pemerintah sebelum keputusan diambil, bukan berbulan kemudian, dan membagikan temuan ke kedutaan
  • Pilihan nyata, bukan ya/tidak — dalam survei CELIOS, ketika ditanya apakah mau makanan gratis, mayoritas menjawab ya; tetapi ketika ditawarkan pilihan uang tunai, makanan, atau opsi lain, responden lebih memilih uang tunai
  • Memantau pemilih ragu — pada Pilpres 2024, Omniki memantau dukungan kandidat dan pemilih belum menentukan, membantu klien menyesuaikan strategi kampanye

Mengapa mendengar dan menyimak itu penting

Fahmi menutup diskusi kebijakan dengan satu poin sederhana: dengan organisasi seperti Omniki.Survey, NU, Muhammadiyah, ISMES, dan CELIOS menyumbang bukti ke dalam debat, pemerintah akan lebih bijak bila mendengar. Masyarakat sipil, tegasnya, layak mendapat perhatian, berbasis riset dan survei, bukan asumsi.
Jangan ketinggalan informasi terkini
Percakapan ini bagian dari kerja berkelanjutan Omniki tentang bagaimana opini publik terbentuk dan bergeser, baik di Indonesia maupun Timur Tengah. Ingin data lengkap MENA 2026, atau kabar awal tentang sesi berikutnya? Jangan ragu untuk menghubungi kami.
Privacy Notice:
Your privacy is important to us. We will not share your information with third parties. For more details, please review our Privacy Policy.

Mitra & Acara Kami

ANGGOTA DARI

+971 52 4906099
+62 811 1782 609
Copyright @ 2026 Omniki.survey
|