Opini Publik Mengenai Konflik Timur Tengah

Opini Publik Mengenai Konflik Timur Tengah

Sejak dimulainya kampanye militer yang diluncurkan oleh Amerika Serikat dan Israel melawan rezim Iran pada 28 Februari 2026, dan de-eskalasi berikutnya setelah pengumuman gencatan senjata sementara pada 8 April 2026, para ahli dan analis di seluruh dunia telah berupaya menilai dampak konflik tersebut terhadap perekonomian Timur Tengah dan juga dunia

Studi terbaru yang dilakukan oleh Omniki.Survey bertujuan untuk mengukur sejauh mana masyarakat yang tinggal di area Timur Tengah yang terlibat langsung dalam konflik, serta negara-negara yang berbatasan dengan atau berada di dekat Iran Mari kita lihatperkembangan terkini bagaimana konflik tersebut mempengaruhi negara-negara tersebut.
Negara-negara yang dianalisa dalam Studi: Kuwait, Qatar, Oman, Kerajaan Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Mesir, Irak, Yordania, Turki, Armenia, Azerbaijan, India, dan Pakistan.

Media Sosial Sebagai Sumber Utama untuk Tetap Terinformasi

Kecuali Turki, Yordania, dan Irak, negara-negara yang disurvei mengidentifikasi media sosial sebagai sumber utama untuk tetap terinformasi megenai konflik tersebut. Di Turki (49.9%), Yordania (46.2%), dan Irak (40.7%), responden sebaliknya mengandalkan terutama pada televisi.
Ada kemungkinan temuan studi ini mencerminkan tren global yang dimulai ketika negara-negara di seluruh dunia melakukan lockdown di tengah wabah pandemi COVID-19 — kepercayaan masyarakat terhadap media arus utama terus menurun sejak saat itu. Dalam konteks konflik AS–Israel–Iran, studi ini menunjukkan ketergantungan yang semakin besar pada platform media sosial, yang banyak di antaranya menjadi landasan laporan jurnalis independen yang tidak berafiliasi secara resmi dengan organisasi media negara tertentu.

Masyarakat dari Negara-negara Teluk Mengekspresikan Sentimen yang Lebih Besar terhadap Iran

Ketika ditanya secara langsung pihak mana yang posisinyadirasakan lebih dekat, hampir setengah dari mereka yang disurvei di UEA — negara yang selalu sejalan dengan AS dan Israel dalam melihat rezim Islam di Iran sebagai ancaman keamanan regional dan global — menyatakan bahwa tidak ada pihak yang lebih sejalan dengan mereka (45.8%).

Proporsi responden dengan jumlah yang sama ada di Kerajaan Saudi Arabia (45.6%) — rumah bagi dua tempat suci Islam dan dianggap sebagai kekuatan terkemuka di dunia Arab — serta di Kuwait, di mana diskusi publik tentang hubungan dengan Israel masih sensitif secara politis Data menunjukkan tiada pemilihan pihak

Tren yang sebanding, meskipun kurang menonjol, ditemukan di seluruh negara Teluk lainnya: Oman (27.7%) dan Qatar (26.8%).

Namun, ketika membandingkan mereka yang mengatakan merasa lebih sejalan dengan Iran dengan mereka yang percaya bahwa AS dan Israel berada di pihak yang benar, sentimen pro-Iran yang lebih kuat dapat diamati di seluruh negara Teluk, dipimpin oleh Oman (30%) dan Qatar (26%).

Mayoritas Percaya Israel Bertanggung Jawab atas Eskalasi Terkini

Dari 13 negara yang disurvei, mayoritas dari 11 negara menyalahkan Israel atas eskalasi saat ini. Angka yang sangat tinggi ada di Mesir (55.1%), Armenia (54.1%), Turki (51.2%), Qatar (46.1%), Pakistan (45.9%), dan Kuwait (44.4%). Di negara-negara ini, hampir setengah responden menganggap Israel sebagai pihak yang bertanggung jawab atas eskalasi hubungan antara Iran dan Barat hingga mencapai tahap konflik bersenjata.

Beberapa penjelasan mungkin berlaku di sini. Pertama adalah penjelasan faktual — AS dan Israel yang, melanggar hukum internasional, secara preemptive meluncurkan kampanye militer terhadap Iran sementara negosiasi diplomatik yang dipublikasikan secara luas sedang berlangsung.

Kedua, temuan ini mungkin mencerminkan pergeseran global dalam cara masyarakat umum memandang tindakan balasan Israel terhadap Gaza setelah tanggal 7 Oktober 2023.

Ketiga, temuan ini mungkin menunjukkan bahwa Israel kalah dalam pertempuran opini publik. Contohnya, setiap responden kelima di Azerbaijan — meskipun ada hubungan erat antara pemerintah Azerbaijan dan Israel — menyatakan ketidaksetujuan terhadap kampanye militer mendadak yang diluncurkan terhadap Iran.

Dipasarkan sebagai Aman, Negara-negara Teluk Mengalami Kerusakan Reputasi

Konflik dimulai selama bulan suci Ramadan. Jika kita menganalisa Abu Dhabi sebagai studi kasus singkat, dampaknya serius. Tingkat hunian hotel di Abu Dhabi selama perayaan akhir Ramadan pada pertengahan Maret turun 45% dibandingkan tahun lalu. Meskipun UAE sepenuhnya mencabut pembatasan wilayah udara pada awal Mei, beberapa maskapai masih belum melanjutkan penerbangan. Maskapai Jerman Lufthansa, misalnya, telah menangguhkan penerbangan ke Abu Dhabi hingga akhir Oktober. Maskapai Rusia Aeroflot akan melanjutkan penerbangan ke UAE mulai 1 Juni.

Selama beberapa dekade, UAE telah membangun citra stabilitas dan keamanan, dan citra tersebut kini dipertanyakan.

Studi Omniki.Survey mengungkapkan bahwa 6 dari 10 orang dari Kuwait, Qatar, UAE menyatakan  konflik tersebut mempengaruhi mereka.

Ketika ditanya tentang area kehidupan mana yang paling terdampak, lebih dari setengah dari mereka yang tinggal di UEA menunjukkan kecemasan/stres/ketegangan emosional, lebih dari 40% menyatakan kekhawatiran atas kemungkinan kenaikan biaya hidup sementara 1/3 khawatir tentang kemungkinan perubahan situasi pekerjaan mereka.

Kekhawatiran tentang situasi keuangan yang memburuk mendominasi di India (75.7%), Mesir (65.3%), Pakistan (63.8%), dan Yordania (62.6%) dan tersebar luas di seluruh 13 negara.

Pandangan Positif ke Masa Depan Mendominasi di Semua Negara Teluk

Meskipun kontroversi dan perpecahan terus berlanjut di antara para ahli dan analis politik; masyarakat di negara-negara Teluk yang secara langsung terlibat dalam konflik saat ini — dan yang telah mengalami serangan balasan secara langsung — cenderung percaya bahwa situasi kemungkinan akan membaik dalam waktu dekat.

Ada kemungkinan data yang diperoleh Omniki.Survey selama studi ini menggambarkan fenomena yang para ilmuwan definisikan sebagai bias optimisme — kecenderungan manusiawi yang melekat untuk melebih-lebihkan kemungkinan mengalami peristiwa positif dan meremehkan kemungkinan peristiwa negatif.

Kesimpulannyabagaimana opini publik akan berubah atau bergeser angat bergantung pada perkembangan konflik ini.

Untuk wawasan lebih lanjut mengenai opini publik mengenai konflik dan juga datastatistik untuk setiap negara peserta studi, silakan hubungi tim Omniki.Survey.

Tentang Omniki.Survey

Omniki.Survey mengimplementasi metode river-sampling untuk pengumpulan data dari responden yang obyektif, menyaring pengisian cepat dan jawaban tidak logis untuk memastikan bahwa data yang dikumpulkan kokoh dan dapat diandalkan..

Dengan menggunakan praktik terbaik ilmu sosiologi, Omniki.Survey menyampaikan fakta-fakta dasar dan membantu otoritas pemerintah maupun perusahaan untuk memperoleh wawasan yang diperlukan guna mengambil keputusan yang positif.

Tinggalkan detail kontak Anda untuk mengakses laporan lengkap tentang sejauh mana masyarakat yang tinggal di 13 negara tersebut terdampak, baik secara langsung atau tidak langsung, oleh konflik AS-Israel-Iran.

Kami siap menyusun dan menyediakan laporan mendalam di tingkat negara bagi pihak yang membutuhkan, khusus untuk seluruh negara yang termasuk dalam cakupan survei ini.
AKHIR DARI RILIS PUBLIK

Mitra & Acara Kami

ANGGOTA DARI

+971 52 4906099
+62 811 1782 609
Copyright @ 2026 Omniki.survey
|