Asal produk lokal terbukti punya pengaruh cukup besar. Lebih dari dua pertiga konsumen (68.1%) menyatakan negara asal adalah faktor penting ketika memilih produk serupa, sementara lebih dari separuh responden (52.5%) lebih mempercayai produk buatan Indonesia dibandingkan produk dari negara lain. Di sisi lain, satu dari empat responden mengatakan preferensi mereka bergantung pada kategori produk. Artinya, negara asal memang memengaruhi pertimbangan, tetapi tidak selalu menentukan setiap keputusan pembelian dengan cara yang sama.
Makna yang melekat pada label “Made in Indonesia” juga tidak kalah penting. Bagi mayoritas konsumen, label tersebut pertama-tama diasosiasikan dengan dukungan terhadap perekonomian nasional (61.5%). Harga terjangkau dan kualitas produk juga termasuk asosiasi yang sering disebut, meski frekuensinya jauh lebih rendah. Secara keseluruhan, temuan ini menunjukkan bahwa asal lokal kini bukan sekadar informasi tentang tempat produksi, melainkan semakin mencerminkan nilai-nilai yang diyakini konsumen diwakili oleh sebuah merek.
Meski begitu, asal lokal tidak otomatis menjamin preferensi konsumen dalam setiap situasi. Sikap positif terhadap produk buatan Indonesia memang jelas terlihat, tetapi keputusan pembelian tetap jauh lebih kompleks daripada sekadar label negara asal. Pengaruh “Made in Indonesia” berbeda-beda tergantung konteks, sehingga lebih tepat dipandang sebagai salah satu faktor dalam proses pengambilan keputusan yang lebih luas, bukan sebagai keunggulan universal.
Seiring semakin banyak merek Indonesia masuk ke ritel modern dan bersaing dengan alternatif internasional, memahami kondisi di mana asal lokal benar-benar memperkuat preferensi konsumen menjadi semakin penting. Dukungan umum dari konsumen memberi fondasi kuat, tetapi mengubah dukungan itu menjadi keputusan pembelian membutuhkan pemahaman lebih dalam tentang bagaimana kategori produk, klaim merek, dan ekspektasi konsumen membentuk perilaku mereka.