Dua Demografi untuk Meningkatkan Pariwisata Domestik Indonesia
B2B
26.02.2025
ASIA
Pada Desember 2024, Kementerian Pariwisata Indonesia mengumumkan target 1,08 miliar perjalanan domestik untuk tahun 2025. Angka ini sedikit lebih rendah dibandingkan target tahun sebelumnya, yaitu 1,4 miliar perjalanan. Dengan wawasan mendalam yang kami peroleh dari partisipasi di Hospitality Indonesia Conference 2025, kami dengan bangga mempersembahkan temuan dari studi terbaru kami mengenai pasar pariwisata domestik Indonesia. Studi ini bertujuan untuk membantu pelaku industri perhotelan Indonesia mendapatkan keunggulan kompetitif dan meningkatkan pendapatan mereka.
Periode pasca-COVID menyaksikan lonjakan tajam jumlah wisatawan internasional yang mencari tempat berlibur di Kepulauan Indonesia. Hal ini menyebabkan kekhawatiran bagi banyak destinasi populer karena terjadinya fenomena overtourism. Seiring dengan terus meningkatnya jumlah wisatawan di Bali dalam beberapa tahun terakhir, pada Februari 2024, pemerintah setempat terpaksa menghentikan pembangunan hotel baru di beberapa area Bali dan memberlakukan pajak wisata bagi wisatawan internasional yang memilih Bali sebagai destinasi mereka.

Kami percaya bahwa pengembangan lebih lanjut pariwisata domestik bisa menjadi faktor penting dalam mengurangi dampak negatif wisatawan internasional terhadap infrastruktur lokal, lingkungan, dan budaya, sambil tetap memungkinkan industri perhotelan menikmati pendapatan yang tinggi.
Temuan Utama Studi Omniki.Survey (Januari 2025):

  • Destinasi di Indonesia yang bisa dieksplorasi dan dimanfaatkan oleh investor
  • Area utama yang perlu diperbaiki oleh penyedia layanan untuk meningkatkan pendapatan
  • Penawaran pemasaran yang bisa dimaksimalkan oleh penyedia layanan
  • Saluran komunikasi yang bisa digunakan hotel
  • Kelompok yang harus dilibatkan untuk meningkatkan pariwisata domestik

Destinasi yang Bisa Dieksplorasi oleh Investor

Menurut studi terbaru Omniki.Survey, Bali (36,9%) berada di posisi teratas sebagai destinasi favorit bagi masyarakat Indonesia. Studi ini juga memetakan destinasi yang kurang sering dikunjungi, seperti: Lombok (8%), Sulawesi (6,8%), Sumatra (5,9%), Papua (1,5%). Karena wisata alam semakin diminati di seluruh dunia (21,7% responden memilih wisata alam sebagai preferensi utama), hotel dan agen perjalanan dapat merancang paket wisata yang sesuai dengan daya tarik setiap wilayah dan lebih berfokus pada pengalaman eko-petualangan.

Kami juga mengamati adanya korelasi antara popularitas suatu destinasi dengan kedekatannya dengan Pulau Jawa (tempat ibu kota Jakarta berada) atau Pulau Bali yang dianggap sebagai destinasi wajib kunjung di Asia Tenggara dan Oseania.

Kesimpulannya, destinasi yang kurang dihargai, seperti Papua, memiliki potensi untuk mengalihkan wisatawan dari destinasi yang sudah terlalu ramai dikunjungi, asalkan pengembangannya diselaraskan dengan tren wisata alam.

Area yang Bisa Ditingkatkan oleh Penyedia Layanan untuk Meningkatkan Pendapatan

Studi ini mengungkapkan beberapa aspek yang perlu ditingkatkan oleh hotel untuk memperbaiki pengalaman pengunjung secara keseluruhan: Layanan pelanggan yang ramah dan perhatian (17,5%), Pilihan bersantap yang beragam (9,6%) Standar keamanan dan keselamatan (4%). Jika hotel mempertimbangkan untuk menambah nilai di area ini, hal ini kemungkinan besar akan berdampak positif pada jumlah pengunjung dan memungkinkan penyedia layanan menikmati pendapatan yang lebih tinggi.

Kelompok yang Harus Dilibatkan untuk Meningkatkan Pariwisata Domestik

Temuan utama kami mengidentifikasi dua kelompok pemangku kepentingan yang dapat ditargetkan oleh tim pemasaran dalam kampanye promosi mereka untuk menarik pengunjung dari seluruh Indonesia: pria berusia 25–54 tahun yang bepergian sendiri, terutama dari pulau-pulau dengan populasi terpadat seperti Kalimantan dan Sumatra, wisatawan keluarga dalam rentang usia yang sama yang ingin berlibur bersama keluarganya. Faktor pekerjaan juga memiliki peran penting — 41,9% pengunjung mengonfirmasi status pekerjaan mereka, dengan mayoritas (68,6%) berasal dari sektor komersial. Sementara itu, tingkat pendidikan ditemukan tidak memengaruhi kebiasaan perjalanan.

Tentang Omniki.Survey

Mengidentifikasi kekhawatiran masyarakat adalah bagian dari proses pengambilan keputusan bagi pemerintah di semua tingkat — nasional, regional, dan lokal. Omniki.Survey menggunakan metode river-sampling untuk mengumpulkan data dari responden yang tidak bias, menyaring tanggapan yang terlalu cepat atau tidak logis untuk memastikan data yang dikumpulkan andalan dan kuat.

Dengan menggunakan praktik terbaik dalam ilmu sosiologi, Omniki.Survey memberikan fakta dasar yang membantu pihak berwenang maupun perusahaan mendapatkan wawasan yang dibutuhkan untuk menghasilkan perubahan positif.

Tinggalkan kontak anda dan dapatkan laporan lengkap berisi:

  • Profil terperinci audiens target di Indonesia
  • Wilayah paling populer
  • Preferensi wisatawan
  • Faktor pengambilan keputusan
  • Wawasan untuk pemasaran
  • Ekspektasi vs. realitas hotel di Indonesia
AKHIR DARI RILIS PUBLIK

Mitra & Acara Kami

Copyright @ 2025 Omniki.survey
|